BLITAR. Kesabaran warga Dusun Jetis, Desa Butun, Kecamatan Gandusari akhirnya habis. Dalam sebuah aksi protes yang tak biasa namun mencolok, bentangan jalan desa yang selama ini menjadi urat nadi perekonomian dan mobilitas warga kini telah beralih fungsi. Tak lagi menjadi perlintasan kendaraan, jalan sepanjang kurang lebih satu kilometer tersebut kini “ditanami” pohon pisang.
Pantauan awak media ini di lokasi, kondisi jalan memang sangat memprihatinkan. Permukaannya berlubang, becek saat hujan, dan berdebu parah saat kemarau, dengan kerusakan yang begitu parah sehingga menyulitkan siapa pun yang melintas. “Ini bukan jalan, ini sawah kering!” ujar salah seorang warga yang menolak disebutkan namanya, dengan nada geram.

Aksi yang tampaknya terorganisir ini menjadi simbol kekecewaan mendalam warga terhadap lambannya respons pihak berwenang dalam melakukan perbaikan. Meskipun belum ada pihak yang secara resmi mengaku sebagai inisiator utama, langkah ini jelas merupakan bentuk perlawanan terhadap pembiaran yang terjadi selama bertahun-tahun. Tindakan menanam pohon di tengah jalan ini secara efektif memblokir akses dan mengundang perhatian siapapun yang lewat.
**Gerah dan Hilang Kesabaran**
Warga mengaku gerah dengan janji-janji manis perbaikan yang tak kunjung terealisasi. Bagi mereka, kondisi jalan ini sudah tidak manusiawi dan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. “Kami sudah lapor, kami sudah usulkan di musrenbang, tapi hasilnya apa? Nol besar! Kami seperti warga kelas dua di sini,” tambah warga lainnya. Kerusakan jalan ini tidak hanya menghambat mobilitas, tapi juga berpotensi menimbulkan kecelakaan bagi pengendara sepeda motor.
**Diamnya Pemerintah dan Pertanyaan Besar untuk PUPR**
Pertanyaan besar kini mengemuka: Akankah pemerintah daerah dan, yang paling relevan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), terus berdiam diri melihat aksi protes yang begitu nyata ini? Apakah mereka akan tetap menutup mata terhadap penderitaan warga Desa Butun yang selama ini dibiarkan tanpa akses jalan yang layak? Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak terkait mengenai langkah konkret yang akan diambil untuk mengatasi masalah ini.
Aksi protes ini bukan hanya sekadar penanaman pohon, melainkan sebuah seruan mendesak akan kebutuhan dasar yang terabaikan. Pemerintah diharapkan segera turun tangan, bukan hanya untuk membersihkan “kebun” pisang di tengah jalan, tapi untuk membangun jalan yang layak dan memanusiakan warga Dusun Jetis. Pembiaran lebih lanjut hanya akan memperkeruh suasana dan memicu aksi serupa yang lebih besar di masa mendatang. ( Nugi. )







